Kaidah I

CARA MEMBANGUN KERAGUAN DALAM IBADAH

Oleh: Ustadz Abdul Baits Muchtar. Lc.MA

Hidup manusia adalah semata-mata diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, bukan lainya (QS.51/Adz-Dzariyat:56), dan arti Ibadah adalah kesadaran seorang makhluk Allah bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang hanya disembah, sehingga semua aktifitas hidupnya hanya untuk memperoleh ridha-Nya (QS.98/Al Bayyinah:5). Dengan demikian bahwa Tauhid, ikhlas (memurnikan Allah) dan taat /patuh adalah intisari dari ibadah, yang harus dijadikan prinsip hidup dalam kehidupan manusia.

JENIS IBADAH:

Menurut Ibnu Rsydi, ibadah terbagi menjadi 2:

 

1.      Ibadah Mahdhah (khusus) : ibadah yang mengatur hubungan vertical antara ‘abid (hambah) dengan Ma’bud (yang disembah/Allah), seperti sholat, puasa, wudlu, haji dll. Ibadah ini harus sesuai prinsip-prinsip sebagai berikut:

a.      Dalam menjalankan ibadah ini harus ada dalil perintahnya, baik al Qur’an atau As Sunnah. Artinya tidak boleh mengerjakan ibadah ini sampai benar-benar menemukan dalil yang membolehkannya, karena ASLI HUKUM IBADAH ADALAH HARAM.

b.     Bentuk, sifat dan tata caranya harus sesuai yang dengan contoh yang diperagakan oleh Rasulullah.

c.      Azaz Ibadah ini berprinsip taat mutlak/tidak boleh membantah baik masuk akal maupun tidak.

2.      Ibadah Bukan Mahdha (umum) : Ibadah yang mengatur hubungan horizontal sesama manusia, namun semata-mata karena mencari ridha Allah. Ibadah ini biasanya berbentuk muamalah / transaksi, pergaulan, akhhlak dan bercirikan sebagai berikut:

a.            Tidak ada aturan khusus dan dalil terperinci, yang memerintahkannya. Maka kita boleh mengerjakan apa saja dengan tujuan ibadah selama tidak ada dalil yang melarangnya.

b.            Bentuk, sifat dan tata cara menjalankan ibadah ini adalah berdasarkan pertimbangan akal atas azaz manfaat dan menolak madhorot.

c.            Meniru gaya, tata cara Rasulullah adalah sebagi bentuk sunah semata, bukan wajib. Seperti, makan, tidur, berdagang, berjalan dll.

MENCIPTAKAN IBADAH YANG BAIK DAN BENAR:

1.            Niatnya baik & benar, dengan demikian semua aktifitas kita dalam hidup yang aslinya adat akan menjadi nilai ibadat.

2.            Tujuan ibadah baik & benar: harus mengetahui obyeknya siapa, yaitu Allah, karena banyak ibadah yang sama, namun yang membedakan tujuannya, seperti puasa.

3.            Cara mengerjakannya baik & benar.

4.            Nama dan bentuk perbuatannya harus baik & benar

5.            Dan cara menyikapi hasil ibadah harus juga baik & benar.

MEMBANGUN KERAGUAN DALAM BERIBADAH:

Sifat ragu adalah normal bagi setiap manusia dalam menjalankan aktifitas apapun (QS.2 : 2 &13), termasuk juga dalam hal ibadah. Namun yang harus kita cari adalah bagaimana cara membangun keraguan tersebut serta mencari solusinya sehingga sholat ibadah kita tidak sia-sia, dan tetap dicacat sebagai amalan ibadah yang baik dan benar. Dan apabila kita ragu dalam menjalankan amaln ibadah terutama yang ibadah mahdhoh, maka kita dapat memperhatikan cara membangun dan solusi keraguan tersebut seperti kaidah di bawah ini.

NO

MASALAH

CONTOH

SOLUSI / KEPUTUSAN

1.    

Ragu dalambilanganibadah

a)    Apakah sholatku sudah 3 rekaat atau 4 rekaat ?.

b)   Apakah sudah towaf 6 atau 7 putaran ?

c)    Apakah sudah 3 takbir atau 4 (dlm sholat jenazah) ?

d)   Apakah aku sudah mengqadha puasa 5 atau 6 hari ?

Memutuskan bilangan yang sedikit

2.    

Ragu dalamkewajibanibadah

a)   Apakah aku sudah sholat asar atau belum?

b)   Apakah aku sudah berwudhu atau belum ?

c)    Apakah aku sudah membayar fidyah atau belum?

d)   Apakah sudah mandi junub (bagi yg hadas besar) atau belum ?

seolah-olah belum menjalankan kewajiban

(mengulang dari awal)

3.    

Ragu dalampelaksanaanibadah

a)   Apakah aku sudah mengusap kepala atau belum ?

b)   Apakah aku sudah menjalankan rukuk atau belum ?

c)   Apakah aku sudah membaca surat fatihah atau belum ?

Seolah-olah belum dilaksanakan (mengulang dari yang diragukan)

4.    

Ragu dalambatal ibadah

a)   Apakah aku sudah batal wudhu  atau belum ?

b)   Apakah aku sudah makan atau belum (dalam puasa) ?

c)   Apakah aku sudah menyentu lelaki/perempuan atu belum ?

Seolah-olah belum batal (tetap dalam kondisi sebelumnya).

5.    

Ragu dalamnajis untuk ibadah

a)    Apakah ini mani/sperma atau madhi (cairan karena kelelahan) ?

b)   Apakah cipratan air di jalan tadi najis atau suci ?

menganggap yang suci

6.    

Ragu dalamwaktu ibadah

a)   Apakah waktunya sudah masuk atau belum (sholat, buka) ?

b)   Apakah sudah terbit fajar (dlm sahur) atau belum ?

c)   Apakah sudah maghrib (berbuka) atau belum ?

Menganggap belum masuk

7.    

Ragu tentanghukum ibadah

a)   Apakah ibadah yang ini …. boleh atau tidak, ya ?

b)   Apakah puasa cara ini…. boleh atau tidak, ya ?

c)   Apakah menambah bacaan ini….. sah atau tidak, ya ?

Jangan mengerjakan dulu sampai ketemu dalilnya, karena asal ibadah itu diharamkan.

 

 

Mini Galeri

Ponpes Modern Al Buruj

  • Alamat: Jl. Raya Jepara-Kudus KM 10 Cemara Kembar Ngabul Tahunan Jepara Jawa Tengah Indonesia.
  • Telepon: (0291) 344 344 1.
  • Hp: 0877 80000 667.
  • Website: www.ponpes-alburuj.com